![]() |
| illustraion from myself. |
“Ah tak terasa langit sudah gelap sekali, sudah berapa lama kira-kira aku lembur tadi ya?” ucapku saat ini.
Aku tidak menyangka ternyata menjadi perantau dan bekerja jauh dari keluarga sangatlah berat belum lagi ditambah aku sering rindu kampung halamanku. Tetapi aku berusaha untuk tetap kuat karena aku laki-laki dan sudah menjadi kewajibanku untuk mencari nafkah untuk ibuku.
Aku bekerja di kota J sedangkan keluargaku tinggal jauh di sebrang pulau di Barat. Hari ini aku terpaksa lembur hingga malam dikarenakan deadline yang diberikan oleh bosku dan karena ini projek penting untukku aku tak mungkin menolaknya.
Jam sudah menunjukan pukul 22.30 dan aku harus bergegas menuju stasiun untuk mengejar kereta terakhir yang berangkat pada jam 23.00, beruntungnya kantorku sangat dekat dengan stasiun, aku cukup memesan ojek online untuk sampai kesana (ya aku tidak memesan untuk pulang kekosanku karena tarifnya yang mahal pastinya.)
Setelah sekitar 10menit akhirnya aku sampai distasiun tujuanku dan segera bergegas lari kedalam setelah membayar ongkos ojekku, aku menengok ke jam di ponselku dan waktu sudah menunjukan hampir jam 23.00, Lega rasanya sudah sampai tepat waktu distasiun bahkan aku sampai sebelum jamnya.
Distasiun tempatku menaiki kereta ternyata suasananya masih cukup ramai pada jam segini, mungkin aku bukan satu-satunya karyawan yang lembur hari ini. Dan setelah menunggu beberapa menit tibalah kereta yang kutunggu-tunggu, tampak semua penumpang yang ada distasiun bergegas naik kedalam gerbong kereta hingga berdesakan. Bahkan sampai ada yang menarik-narik bajuku seperti tidak memperbolehkan aku naik. Tetapi akhirnya aku berhasil masuk kedalam gerbong.
“Huhhh, ternyata dapat tempat duduk juga.” batinku
“Apa sampai harus seperti itukah berebutan masuk kereta?” tanyaku kembali dalam hati.
Karena aku merasa sedikit ngantuk dan aku pikir perjalanan juga masih agak panjang, aku memutuskan untuk memejamkan mataku sebentar, aku tak perduli dengan keadaan disekitarku yang ramai aku hanya lelah dan ingin istirahat sebentar.
Selang beberapa lama aku memejamkan mata akhirnya aku terbangun. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh, entah kenapa suhu di kereta ini begitu dingin dan beda dari biasanya. Kejanggalan demi kejanggalan terus aku alami mulai dari suasana yang terlalu sunyi serta penumpang yang hanya duduk atau berdiri mematung, tetapi aku tetap berusaha positif thinking mungkin mereka hanya kelelahan setelah bekerja.
Semakin lama aku di kereta bulu kudukku semakin dibuat merinding oleh keadaan saat ini, tiba-tiba seorang penumpang disampingku menegur.
“Baru pulang dek? ” tanyanya.
“Eh iya nek, nenek sendiri? ” balasku, karena tampangnya yang sudah cukup tua sambil membawa syal yang sedang dia jahit ditangannya, makanya aku memanggilnya dengan sebutan nek.
“Kenapa kamu naik kereta ini?” tanya nya kembali. Tetapi aku tidak mengerti maksud dari pertanyaannya, aku terdiam beberapa saat sebelum kembali menjawab.
“Iya nek emang tiap hari naik kereta biar hemat. Maklum merantau. ”
“Dulu 5tahun yang lalu nenek juga sama kayak kamu nak, tiap hari pulang pergi naik kereta... Sampai akhirnya nenek ngalamin sesuatu.”
“Sesuatu gimana maksudnya nek?” Tanyaku dengan sangat penasaran.
“Kamu bisa lihat kan orang-orang disekeliling kamu? Mungkin awalnya kamu kira mereka sama kayak kamu, tetapi kalau kamu perhatikan lagi baik-baik mereka semua pucat.”
“....” aku terdiam dan hanya memandangi sekeliling ku dan aku baru sadar kalau omongan nenek itu benar.
“Kamu gaperlu takut sama mereka, dulu pernah ada cerita tentang pembunuh berantai disebuah kereta, semua korban yang ditemukan memiliki luka sayatan di leher mereka dan anehnya luka tersebut dijahit sendiri oleh sang pelaku. Jumlah korbannya bahkan mencapai 97 orang. ”
Mendengar cerita dari sang nenek membuat sekujur tubuhku tiba-tiba gemetar dan lemas. Aku hanya bisa duduk terdiam dan kaku hingga pada akhirnya aku berinisiatif untuk mencari tau sendiri tentang kejadian itu melalui ponselku, siapatau nenek ini hanya berniat mengerjaiku.
![]() |
| illustration by myself |
“96?” ucapku spontan.
“Kenapa nak? Nenek galupa jumlah korbannya kok... semuanya 97.”
“Ditambah denganmu.”
“Ditambah denganmu.”
~~●~~
Tags:
Horror Story


